Mengembalikan Khittah HMI
07.21Acapkali tradisi intelektualisme dihadapkan dengan orientasi politik. Intelektualisme dinilai sebagai anak kandung idealisme, sementara orientasi politik dinilai sebagai bentuk telanjang dari pragmatisme. Cara pandang dikhotomis seperti ini tidak selalu tepat dan menguntungkan. Yang kurang baik adalah implikasi jangka panjangnya, di mana wilayah politik dijauhkan dengan warna, tradisi, dan komitmen intelektual. Inilah yang menjadi faktor penyebab mengapa kehidupan politik masing kering dari warna dan pengaruh intelektual.
Arah intelektualisme yang dikembangkan di HMI justru bertugas untuk mendamaikan wilayah akademis-intelektual dengan wilayah perjuangan politik praktis. Keduanya bukan saja harus direlasikan secara positif, tetapi bahkan wilayah perjuangan politik layak ditempatkan sebagai (bagian) kelanjutan proses pematangan intelektual di HMI, termasuk organisasi-organisasi mahasiswa yang lain.
Dalam kaitan itu, yang harus dikembangkan dalam rangka memajukan intelektualisme HMI bukanlah antiorientasi politik, melainkan kemampuan untuk menjaga independensi, ‘bersabar’ dan mencari waktu yang tepat untuk berkiprah di jalur perjuangan politik, setelah menjadi alumni. Justru intelektualisme kemudian menjadi salah satu modal berharga bagi para alumni HMI yang berkiprah di dunia politik, di samping kemahiran berorganisasi dan keterampilan komunikasi sosial.
Sesuai dengan misi HMI yang bergerak dalam ranah kebangsaan, kemahasiswaan, dan keislaman. Kini bukan saatnya lagi untuk bermimpi melakukan perbuatan besar dan menjadi pahlawan yang memiliki nama harum dan dicatat dalam sejarah. Melainkan, yang penting saat ini adalah hari di mana HMI dituntut untuk membuktikan komitmennya terhadap permasalahan- permasalahan kebangsaan terkini. Kemiskinan, pengangguran, kelaparan, minimnya pengetahuan tentang kesehatan adalah masalahmasalah riil bangsa ini. HMI tidak hanya mengurusi masalah pergantian pemerintahan atau rezim, atau dukung tidak mendukung terhadap kekuatan politik yang ada, melainkan sebuah keharusan dan kewajiban untuk turut memecahkan berbagai bentuk masalah tersebut.
Kader HMI sudah seharusnya menjadi panutan dan suri tauladan bagi masyarakat di lingkungannya. HMI seharusnya sudah mampu melakoni perubahan dan mengaktori ritme perbaikan di negeri mayoritas muslim ini. Kita barangkali sepakat, HMI memiliki tanggungjawab sejarah yang lebih besar dibandingkan dengan entitas pergerakan lainnya, khususnya dalam menjaga kontinuitas kebangsaan dan memerangi segala bentuk ketidakmerdekaan dalam kehidupan rakyat. Yakin Usaha Sampai

0 komentar