Mengembalikan Khittah HMI

Acapkali tradisi intelektualisme dihadapkan dengan orientasi politik. Intelektualisme dinilai sebagai anak kandung idealisme, sementara orientasi politik dinilai sebagai bentuk telanjang dari pragmatisme. Cara pandang dikhotomis seperti ini tidak selalu tepat dan menguntungkan. Yang kurang baik adalah implikasi jangka panjangnya, di mana wilayah politik dijauhkan dengan warna, tradisi, dan komitmen intelektual. Inilah yang menjadi faktor penyebab mengapa kehidupan politik masing kering dari warna dan pengaruh intelektual.
Arah intelektualisme yang dikembangkan di HMI justru bertugas untuk mendamaikan wilayah akademis-intelektual dengan wilayah perjuangan politik praktis. Keduanya bukan saja harus direlasikan secara positif, tetapi bahkan wilayah perjuangan politik layak ditempatkan sebagai (bagian) kelanjutan proses pematangan intelektual di HMI, termasuk organisasi-organisasi mahasiswa yang lain.
Dalam kaitan itu, yang harus dikembangkan dalam rangka memajukan intelektualisme HMI bukanlah antiorientasi politik, melainkan kemampuan untuk menjaga independensi, ‘bersabar’ dan mencari waktu yang tepat untuk berkiprah di jalur perjuangan politik, setelah menjadi alumni. Justru intelektualisme kemudian menjadi salah satu modal berharga bagi para alumni HMI yang berkiprah di dunia politik, di samping kemahiran berorganisasi dan keterampilan komunikasi sosial.
Sesuai dengan misi HMI yang bergerak dalam ranah kebangsaan, kemahasiswaan, dan keislaman. Kini bukan saatnya lagi untuk bermimpi melakukan perbuatan besar dan menjadi pahlawan yang memiliki nama harum dan dicatat dalam sejarah. Melainkan, yang penting saat ini adalah hari di mana HMI dituntut untuk membuktikan komitmennya terhadap permasalahan- permasalahan kebangsaan terkini. Kemiskinan, pengangguran, kelaparan, minimnya pengetahuan tentang kesehatan adalah masalahmasalah riil bangsa ini. HMI tidak hanya mengurusi masalah pergantian pemerintahan atau rezim, atau dukung tidak mendukung terhadap kekuatan politik yang ada, melainkan sebuah keharusan dan kewajiban untuk turut memecahkan berbagai bentuk masalah tersebut.
Kader HMI sudah seharusnya menjadi panutan dan suri tauladan bagi masyarakat di lingkungannya. HMI seharusnya sudah mampu melakoni perubahan dan mengaktori ritme perbaikan di negeri mayoritas muslim ini. Kita barangkali sepakat, HMI memiliki tanggungjawab sejarah yang lebih besar dibandingkan dengan entitas pergerakan lainnya, khususnya dalam menjaga kontinuitas kebangsaan dan memerangi segala bentuk ketidakmerdekaan dalam kehidupan rakyat. Yakin Usaha Sampai

menemukan kembali makna sumpah pemuda

“ Berikan aku 10 pemuda maka akan ku Guncang Dunia ( ir Soekarno) “

Dari apa yang disampaikan soekarno dapat menggambarkan bagaimana sosok seorang pemuda dengan semangat dan keinginannya dapat mengubah dunia. Tanggal 28 oktober 1928 sebuah momentum dan pintu gerbang awal bersatunya gerakan kepemudaan bersepakat untuk menjadi satu gerakan untuk mencapai pintu gerbang kemerdekaan Indonesia, sepakat untuk membentuk sebuah bangsa dan negara, ditangan pemudalah pada akhirnya Indonesia dapat memproklamirkan kemerdekaan , seokarno – hatta adalah generasi muda yang tidak disangka menjadi pendobrak revolusi dan kemerdekaan Indonesia demikian pula Soeharto di tahun 1965. Demikian pula mereka yang menurunkan presiden Soeharto pada tahun 1998. Generasi Muda!! Merekalah Masa depan Bangsa.
Sejarah Gerakan mahasiswa
Sejarah dapat dijadikan refleksi untuk melihat dinamika bangsa yang akan merentang ke masa depan, khususnya bagi kaum muda ( termasuk mahasiswa ) Bangsa Indonesia yang telah tumbuh sebagai bangsa berpenduduk besar ke-4 di dunia ternyata sejak dulu memang bukan bangsa tempe, Dinamika bangsa ini sejak dulu dipegang oleh kaum muda ( Mahasiswa dan Pelajar ) peranan kaum inteletual, termasuk mahasiswa, dalam perubahan social adalah kompleks dan penting, sepanjang sejarah , sebagian besar kaum intelektual berdampingan dengan gerakan demokrasi dan nasionalis melawan kolonialisme, kediktatoran atau rezim fasis, dalam sejarah indonesia, kita juga menyaksikan peran penting yang dilakukan oleh mahasiswa namun, peran tersebut ternyata tidak selalu seiring dengan kepentingan menegakkan demokrasi dan kesejahteraan rakyat seperti tahun 1965 ketika mahasiwa bergandengan dengan tentara menggulingkan Soekarno Gerakan Mahasiswa saat itu membantu berdirinya rezim fasis yang berkuasa selama 32 tahun dan berlaku refresif terhadap rakyatnya, berdirinya rezim Soeharto merupakan hasil aliansi dari Mahasiswa – Mahasiswa pro liberalism barat, Gerakan Mahasiswa tahun 1965 yang bergandeng mesra dengan tentara memang meninggalkan kesan yang pahit namun bukan berate gerakan Mahasiswa berujung seperti itu, Diawali pada era 70an, gerakan Mahasiswa bangkit kembali sebagai kelompok yang melakukan kritik terhadap kebijakan rezim soeharto, Gerakan moral Mahasiswa tersebut memuncak pada 15 januari 1974 yang dikenal sebagai peristiwa “ Malari “ Gerakan Mahasiswa ini kembali jatuh ke dalam pelukan militer, Gerakan tersebut dihabisi dengan penangkapan dan pemenjaraan terhadap para pemimpinnya, pada tahun 1978, Gerakan Mahasiswa kembali bergerak kali ini dengan tuntutan yang lebih maju menolak pencalonan kembali Soeharto sebagai presiden, setelah kejadian itu Soeharto mengambil langkah untuk mensterilkan kampus dari semua kegiatan politik. Dewan mahasiswa dibubarkan tidak boleh ada politik praktis di dalam kampus, militer semakin kuat mencengkram kampus, pembredelan pers mahasiswa, pencekalan tokoh – tokoh yang kritis,dan pelarangan buku – buku, dan tahun 1998 gerakan mahasiswa kembali bersatu dengan satu tujuan menurunkan rezim soeharto

Refleksi gerakan kepemudaan
Dari semua apa yang disampaikan diatas dapat menggambarkan bahwa sampai dengan saat ini mahasiswa belum mampu memainkan peran sebagai agent of change atau yang biasa disebut agent - agent perubahan apa yang salah? Ini sebuah pertanyaan yang mesti dijawab oleh kita semua yang mengaku sebagai mahasiswa, sejujurnya kalau kita tanyakan kepada masyarakat maka mereka akan sepakat sedang menunggu kontribusi mahasiswa untuk membawa masyarakat kepada kesejahteraan social, pertama miris ketika melihat teman – teman dikampus sudah terbius dengan gaya hidup barat yang pada akhirnya terlena dengan keadaan akibat dari itu semua melupakan fungsi dan hakikat sebagai seorang mahasiswa sejati. kedua melihat berbagai fenomena yang terjadi saat ini terjadi kelesuan gerakan mahasiswa salah satunya adanya penggiringan mahasiswa saat ini untuk focus kedalam wiliyah akedemik para mahasiswa dijejali dengan kegiatan – kegiatan akademis kampus , gerakan mahasiswa saat ini dipandang sebelah mata image yang melekat mahasiswa bukan lagi sebagai agen perubahan tetapi sebagai agen perusak hal ini didukung dalam setiap aksi mahasiswa berakhir dengan anarkis dan pada akhirnya tersetigma, mahasiswa tidak dapat membawa suatu perubahan, pertanyaanya apa yang harus dilakukan oleh mahasiswa? Saya fikir momentum sumpah pemuda ini adalah mahasiswa saat yang tepat untuk menyatukan kembali gerakan mahasiswa dan mengubah image sebagai kelompok menengah yang berperan mengingatkan pemerintahan apabila ada kebijakan – kebijakan tidak pro terhadap rakyat dengan melakukan pencerdasan kepada masyarakat menurut Tan Malaka dalam bukunya Aksi Massa “ Apabila Masyarakat Sudah Cerdas mereka akan bergerak terhadap pemerintahan yang represif dan otoriter , dalam tulisan ini saya menawarkan solusi membangkitkan kembali gerakan mahasiswa pertama, perbanyak kembali ruang – ruang diskusi untuk mengasah analisis dan ketajaman dalam melihat fenomena – fenomena social kedua, melespaskan semua ego dan kepentingan dari masing – masing gerakan karena pada hakekatnya satu mensejahterakan masyarakat, bersama –sama bersatu demi kepentigan rakyat ketika mahasiswa bersatu ada satu elemen yang dapat menghentikannya, teringat apa yang disampaikan ws rendra dalam puisinya “ perjuangan adalah pelaksanaan kata – kata “ selamat berjuang kawan – kawan mahasiswa di pundak kalian masa depan bangsa!!!






• Mahasiswa Ilmu Pemerintahan Semester VII
• Presidum Nasional Ikatan Mahasiswa ilmu Sosial dan Politik Wilayah II
• Sekertaris Umum BEM Fisip periode 2009 – 2010
• Sekertaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam Komisariat Fisip

binatang dalam kandang

binatang yang ada di kebun binatang tidak pernah kekurangan makanan mereka tidak perlu cemas akan ancaman dari binatang lain.meraka hanya tidur dan bermalas - malasan di dalam kandangnya..tetapi apakah mereka senang dalan keadaan itu?aku pernah merindukan suasana hidup di mana kita tidak perlu bersusah payah,tidak perlu berusaha. tetapi, akankah semangat hidup yang kuat akan muncul dari suasana seperti itu, akankah kita mempunyai mental seorang pejuang? berani menghadapi segala halangan dan rintangan yang menghadanghidup manusia baru bisa dikatakan sempurna setelah ia menghadapi berbagai permasalahan dan dapat mengatasi permasalahan itu dalam kehidupannya ,kawan hidup ini adalah sebuah perjuangan sebaik - baiknya manusia adalah manusia yang bermanfaat semoga dalam perjalanan hidup kita mempunyai arti dan meninggalkan tinta emas dan akan selalu dikenang walaupun kita sudah tiada dari bumi ini..

wujudkan Rasa Nasionalisme Sebagai Landasan Patriotisme Bangsa

wujudkan Rasa Nasionalisme Sebagai Landasan Patriotisme Bangsa
Oleh : Rheza Wahyu Anjaya *

Jas Merah ( Jangan Sekali – Sekali melupakan sejarah ) ( Ir. Soekarno )

10 november memperingati hari pahlawan bagaimana Arek – Arek suroboyo bahu membahu dan semangat serta tekadnya ingin mengusir penjajah yang telah lama membungkam bangsa Indonesia, 10 november pula untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa bangsa Indonesia masih berdiri kokoh yang pada akhirnya membawa banyak simpati dari berbagai negara untuk mencapai kemerdekaan, dari tulisan diatas dapat menggambarkan bahwa para pahlawan demi ibu pertiwi siap mengorbankan jiwa dan raga untuk mewujudkan kemerdekaan Indonesia bagaimana dengan kondisi hari ini? Dengan berkembangnya pengaruh globalisasi untuk membentu dunia tanpa batas ini pula yang saat ini dirasakan oleh bangsa Indonesia, kalau kita perhatikan bagaikan dua sisi mata uang ada dampak positive dan negative, dampak positive nya kita dapat mencari seluas – luasnya informasi diseluruh dunia salah satunya melalui internet untuk meng up grade ilmu pengetahuan, dampak negative melalui gaya hidup atau yang biasa yang disebut Free style ini dipengaruhi oleh tontonan dan pengaruh – pengaruh dari barat pada akibatnya banyak masyarakat Indonesia menjadikan sebagai gaya hidup indonesia salah satu contohnya adalah berpakaian minim, ke diskotik, Nongkrong di Mal Dll, apa hubungannya dengan patriotisme ? Hubunganya dengan patriotisme, bahwa generasi sekarang cenderung melupakan siapakah yang berjuang memerdekakan Indonesia mereka lebih asyik dengan kehidupannya dan melupakan proses pembangunan sebagai upaya meneruskan perjuangan , bedanya zaman dulu kita melawan penjajah sedangkan hari ini kita mengisi pembangunan dengan mengerahkan segala kemampuan kita berbagai bidang mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur,


Nasionalisme sebagai jawaban
Kecintaan terhadap negeri sendiri sering dianggap sebagai tebalnya rasa nasionalisme, pembelaan terhadap negara , lazim dikatakan sebagai jiwa patriotis banyak para pengamat politik mengidentikan nasionalisme dengan patriotisme dalam konteks politik nasionalisme adalah menegakan kekuasaan negara dengan menjunjung tinggi nilai kebersamaan berbangsa dalam kehidupan negara yang berdaulat, nasionalisme merupakan ideologi social, boleh dikatakan hampir seluruh bangsa di dunia tidak terlepas dari persoalan nasionalisme, walaupun kini telah berkembang gagasan globalisme yang seakan – akan negara tanpa batas , namun persoalan nasionalisme tidak mudah sirna oleh gelombang internasionalisasi, Nasionalisme adalah ajaran untuk mencintai bangsa dan negara sendiri, kesadaran keanggotaan dalam suatu bangsa yang secara potensial atau actual bersama – sama mencapai, mempertahankan, dan mengabadikan identitas, integritas, kemakmuran dan kekuatan bangsa yakni semangat kebangsaan, mengapa kita harus mempunya rasa nasionalisme? Dengan mempunyai rasa nasionalisme bahwa tidak ada perbedaan yang menghalangi suatu bangsa untuk bersatu, adapun dengan memudarnya rasa nasionalisme mendorong seseorang “ Menjual Negara “ untuk kepentingan pribadi dan menciptakan keutungan berlipat bagi pihak asing maka, walaupun terjadi globalisasi dan internasionalisasi ideologi – ideologi besar di dunia, para idealis nasionalis tetap berkeyakinan untuk tetap mempertahankan dan mamperjuangkan nasionalisme sebagai ideologi negara, sangat berharap dengan tulisan ini dapat meningkatkan rasa nasionalisme kawan – kawan terhadap bangsa ini, siapa lagi yang akan cinta dan akan membangun bangsa ini kalau bukan kita, hari ini dan masa depan , bangsa dan negara Indonesia memerlukan generasi muda yang mempunyai semangat nation sehingga tidak mudah dibayar oleh agen – agen asing yang tidak bertanggung jawab, Indonesia memerlukan generasi muda yang di dalam dadanya ada merah putih, bukan dolar, Euro, Yen, Yuan, bahkan rupiah, Selamat Berjuang Kawan – Kawan Kiranya Allah SWT bersama kita sekalian dalam membangun Republik Tercinta ini.
• Mahasiswa Semester VII Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisip Unpad
• Sekertarsis Umum Bem Fisip Periode 2009 – 2010
• Sekertaris Umum Himpunan Mahasiswa Islam Cab. Sumedang Komisariat Fisip
• Presidium Nasional Ikatan Lembaga Mahasiswa ilmu sosial dan Politik Indonesia wilayah II

Popular Posts

Like us on Facebook

Flickr Images